Daftar Blog Saya

Rabu, 21 Desember 2011

TORAJA

Suku Toraja adalah suku yang menetap di pegunungan bagian utara Sulawesi Selatan, Indonesia. Populasinya diperkirakan sekitar 600.000 jiwa. Mereka juga menetap di sebagian dataran Luwu dan Sulawesi Barat.
Nama Toraja mulanya diberikan oleh suku Bugis Sidenreng dan dari Luwu. Orang Sidenreng menamakan penduduk daerah ini dengan sebutan To Riaja yang mengandung arti “Orang yang berdiam di negeri atas atau pegunungan”, sedang orang Luwu menyebutnya To Riajang yang artinya adalah “orang yang berdiam di sebelah barat”. Ada juga versi lain bahwa kata Toraya asal To = Tau (orang), Raya = dari kata Maraya (besar), artinya orang orang besar, bangsawan. Lama-kelamaan penyebutan tersebut menjadi Toraja, dan kata Tana berarti negeri, sehingga tempat pemukiman suku Toraja dikenal kemudian dengan Tana Toraja.
Wilayah Tana Toraja juga digelar Tondok Lili’na Lapongan Bulan Tana Matari’allo arti harfiahnya adalah “Negri yang bulat seperti bulan dan matahari”. Wilayah ini dihuni oleh satu etnis (Etnis Toraja).
Rumah Adat Toraja
Description: IMG_1476Menurut mitos, leluhur orang Toraja adalah manusia yang berasal dari nirwana, mitos yang tetap melegenda turun temurun hingga kini secara lisan dikalangan masyarakat Toraja ini menceritakan bahwa nenek moyang masyarakat Toraja yang pertama menggunakan “tangga dari langit” untuk turun dari nirwana, yang kemudian berfungsi sebagai media komunikasi dengan Puang Matua (Tuhan Yang Maha Kuasa – dalam bahasa Toraja).
Lain lagi versi dari DR. C. CYRUT seorang antropolog, dalam penelitiannya menuturkan bahwa masyarakat Tana Toraja merupakan hasil dari proses akulturasi antara penduduk lokal yang mendiami daratan Sulawesi Selatan dengan pendatang yang notabene adalah imigran dari Teluk Tongkin (daratan Tiongkok). Proses akulturasi antara kedua masyarakat tersebut, berawal dari berlabuhnya Imigran Indochina dengan jumlah yang cukup banyak di sekitar hulu sungai yang diperkirakan lokasinya di daerah Enrekang, kemudian para imigran ini, membangun pemukimannya di daerah tersebut.
Kesatuan adat
Seluruh Tondok Lepongan Bulan Tana Matari’ Allo ( wilayah Tana Toraja) diikat oleh salah satu aturan yang dikenal dengan nama Tondok Lepongan Bulan Tana Matari’ Allo yang secara harafiahnya berarti “Negri yang bulat seperti bulan dan Matahari”. Nama ini mempunyai latar belakang yang bermakna, persekutuan negeri sebagai satu kesatuan yang bulat dari berbagai daerah adat. Ini dikarenakan Tana Toraja tidak pernah diperintah oleh seorang penguasa tunggal, tetapi wilayah daerahnya terdiri dari kelompok adat yang diperintah oleh masing-masing pemangku adat dan ada sekitar 32 pemangku adat di Toraja.
Karena perserikatan dan kesatuan kelompok adat tersebut, maka diberilah nama perserikatan bundar atau bulat yang terikat dalam satu pandangan hidup dan keyakinan sebagai pengikat seluruh daerah dan kelompok adat tersebut.

KONFLIK


Konflik berasal dari kata kerja Latin configere yang berarti saling memukul. Secara sosiologis, konflik diartikan sebagai suatu proses sosial antara dua orang atau lebih (bisa juga kelompok) dimana salah satu pihak berusaha menyingkirkan pihak lain dengan menghancurkannya atau membuatnya tidak berdaya.
Tidak satu masyarakat pun yang tidak pernah mengalami konflik antar anggotanya atau dengan kelompok masyarakat lainnya, konflik hanya akan hilang bersamaan dengan hilangnya masyarakat itu sendiri.
Konflik dilatarbelakangi oleh perbedaan ciri-ciri yang dibawa individu dalam suatu interaksi. perbedaan-perbedaan tersebut diantaranya adalah menyangkut ciri fisik, kepandaian, pengetahuan, adat istiadat, keyakinan, dan lain sebagainya. Dengan dibawasertanya ciri-ciri individual dalam interaksi sosial, konflik merupakan situasi yang wajar dalam setiap masyarakat dan tidak satu masyarakat pun yang tidak pernah mengalami konflik antar anggotanya atau dengan kelompok masyarakat lainnya, konflik hanya akan hilang bersamaan dengan hilangnya masyarakat itu sendiri.
Konflik bertentangan dengan integrasi. Konflik dan Integrasi berjalan sebagai sebuah siklus di masyarakat. Konflik yang terkontrol akan menghasilkan integrasi. sebaliknya, integrasi yang tidak sempurna dapat menciptakan konflik.

Selasa, 20 Desember 2011

Mengasuh Anak Bukan Hal Sepele

BETAPA pentingnya peran orangtua dalam membesarkan dan mengasuh anak, tak diragukan lagi. Berbagai perkembangan anak, mulai fisik, kognisi, emosi, sosial, termasuk harga diri anak, rasa percaya diri dan identitas jender, sangat dipengaruhi orangtua dalam menerapkan pola asuh.

Berikut contoh masalah seorang anak gadis yang telah mendapatkan pola asuh tidak tepat dari orangtuanya.
Yth Ibu Agustine,

Saya gadis (22) yang sedang bergumul dengan permasalahan psikologis amat kompleks. Saya anak pertama dari dua bersaudara. Adik saya laki-laki, usia 20 tahun. Sejak kecil, semua keperluan saya dan adik diurus Ibu. Kehadiran Ayah hanya bersifat fisik saja. Bisa dikatakan, kami tidak pernah merasakan kasih sayang dan perhatian seorang ayah.

Meski demikian, hubungan kami dengan Ibu juga tidak terlalu ”dekat”. Adakalanya kami bisa tertawa bersama, tetapi saya tidak pernah merasa nyaman berbagi semua.

Beberapa tahun belakangan Ibu semakin dominan karena Ayah tidak lagi bekerja. Saya merasa Ibu demikian sayang dan memerhatikan anak-anaknya sehingga sering kali sikapnya demikian ”aneh”. Bahasa hiperbolanya, Ibu semakin memantapkan posisinya sebagai ”diktator” yang mengatur kehidupan anak-anaknya.

Hal tersebut membuat saya dan adik makin hari makin tertekan. Akibatnya, kami sering melakukan hal-hal tertentu tanpa sepengetahuan Ibu. Belakangan saya sering merasa emosi saya tidak stabil. Saya bisa menjadi orang yang tegar, kuat, dominan, dan keras di satu sisi, tetapi adakalanya saya merasa demikian lemah, manja, dan mau enak sendiri.

Kalau sudah begini, saya bisa menjadi pribadi kejam dan penuntut, berbohong, melakukan apa saja untuk mendapat yang saya inginkan. Saya juga kadang terdorong berbuat kekerasan (walaupun masih dalam skala kecil). Yang jelas, saya tipe orang introver.
Saya jatuh cinta pertama kali pada usia 10 tahun (cinta yang juga disertai gairah seksual, bukan pula cinta monyet) kepada sahabat perempuan saya, sebut saja X. Di sisi dia, saya merasa hangat. Saya selalu ingin melindungi dan membuat dia tersenyum. Saya mencintai dia seperti lelaki mencintai perempuan.

Pada usia sekarang, saya baru menyadari, mungkin salah satu hal yang membuat saya tertarik kepada X adalah karena saya merasa menemukan ”dunia baru” dalam dirinya, sesuatu yang tidak pernah saya dapat di rumah. Makin dewasa, saya makin menyadari saya tidak tertarik dengan laki-laki dan hanya tertarik kepada perempuan, baik secara fisik maupun emosional.

Saya jatuh cinta kedua kalinya pada usia 20 tahun kepada Y. Dia memperlakukan saya seolah-olah saya pribadi yang butuh ”perlindungan”. Dia melindungi dan mencintai saya seperti laki-laki mencintai perempuan. Saya merasa nyaman, aman, tenang bersama Y. Berbeda dengan yang pertama, kali ini saya mencintai Y seperti perempuan mencintai laki-laki. Kedua perjalanan cinta saya kandas di tengah jalan.

Saya pernah berhubungan seksual dengan Y. Masturbasi juga terkadang saya lakukan. Yang agak meresahkan, makin hari saya makin bergairah dengan fantasi bernada kekerasan. Membayangkan saya atau tokoh idola saya atau Y (bukan X) sebagai ”korban” kekerasan fisik benar-benar memicu gairah saya.
Saya bingung dengan semua yang terjadi. Menurut Ibu, sebenarnya ada apa dengan diri saya? Adakah yang salah? Hal apa yang mesti saya perbuat dan bagaimana saya menghadapi permasalahan ini agar tidak membuat saya makin ”terpuruk”? Saya benar-benar ingin semua yang saya alami bisa menuntun saya pada pemikiran lebih dewasa. (J di S)

J yang baik, saya prihatin sekali dengan masalah Anda. Analisis saya memang ada yang salah dalam perkembangan kepribadian Anda.

Secara sadar maupun tidak sadar sebenarnya Anda ”marah” atas apa yang telah orangtua lakukan dalam pengasuhan mereka. Anda mengalami banyak konflik dalam hubungan perasaan dengan Ibu yang di satu sisi Anda pahami sangat menyayangi, tetapi Anda tidak terima dengan sikapnya yang otoriter dan tidak punya kompromi itu.

Anda juga sangat kecewa terhadap sikap Ayah yang tidak bisa terlibat secara lebih akrab dan memenuhi kebutuhan masa kecil Anda akan perlindungan dan kasih sayang. Disertai dengan berbagai pengalaman hidup lain, semua itu membuat kepribadian Anda berkembang menjadi seorang yang labil secara emosi dan bimbang pada berbagai prinsip/nilai kehidupan lain, termasuk pilihan orientasi seksual.

Peristiwa ”menyenangkan” dalam perjalanan cinta Anda juga harus berakhir buruk. Padahal, di situ Anda mendapatkan kenyamanan afeksi meski hanya sementara. Kemarahan Anda makin menjadi dan tampil dalam bentuk agresivitas seksual, meskipun masih sebatas imajinasi.

Menurut saya, sebagai seorang yang kemudian paham penyebab masalah sendiri, seyogianya Anda bangkit dan keluar dari berbagai persoalan yang melanda. Sebagai anak muda, gairah seksual memang sedang meningkat, misalnya. Tetapi, Anda juga dapat menyalurkan melalui aktivitas lain yang lebih produktif.

Galilah potensi diri yang belum tertampil. Saya yakin Anda gadis pintar mengingat tulisan Anda. Cobalah terus memperluas pergaulan, baik dengan pria maupun wanita. Upayakan tidak terlalu terpaku pada cara orangtua memperlakukan Anda selama ini, karena Anda pun mampu bersikap lebih dewasa dan mencari panutan dari tokoh lain. Masalah Anda memang berat, bila perlu bisa berkonsultasi kepada psikolog di kota Anda. Salam sukses.

511.500 Balita di Jatim kurang Gizi

SURABAYA, KAMIS - Dari total 3,1 juta balita di Jawa Timur, sekitar 16,5 persen atau 511.500 jiwa di antaranya menderita gizi kurang. Rendahnya kesadaran orang tua untuk memberikan asupan terbaik kepada anak merupakan penyebab utama.
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur Iwan M Moeljono, Rabu (22/10) di Surabaya mengatakan, kurangnya asupan makan bergizi pada anak berkaitan erat dengan pola asuh, daya beli, dan penyakit yang diderita anak. "Pemberantasan masalah gizi buruk tidak sekedar berhenti pada pemberian makanan tambahan tetapi juga pembinaan kesadaran masyarakat akan pentingnya makanan bergizi," ujarnya.
Menurut Iwan, pemulihan kesehatan pada anak yang mengalami kekurangan gizi membutuhkan waktu sekitar tiga bulan. Namun demikian, jika orang tua tidak merubah pola asuh, maka setelah tiga bulan anak akan jatuh lagi pada kasus yang sama.
Pendampingan untuk sementara waktu memang bisa diberikan petugas kesehatan. "Tetapi setelah itu orang tualah yang harus melanjutkan," kata Iwan.
Ketua Persatuan Ahli Gizi Indonesia (Persagi) Jatim Andriyanto mengatakan, pemulihan gizi buruk melalui pemberian makanan tambahan harus dilakukan secara serentak dengan penyuluhan tentang gizi kepada orang tua. Dengan demikian, kandungan gizi anak bertambah bersamaan dengan pola perilaku pendampingan baru dari orang tua.
Pemberian makanan berkualitas harus dimulai sejak anak berada dalam kandungan karena 80 persen pembentukan otak anak terjadi dalam kandungan. Sementara itu, 20 persen perkembangan berikutnya terjadi saat anak lahir hingga usia dua tahun.
Banyak masyarakat yang belum tahu kalau usia bayi di bawah enam bulan membutuhkan air susu ibu eksklusif. Setelah usia enam bulan hingga dua tahun baru anak dapat diberi makanan tambahan. Pemahaman dasar ini penting karena sangat berpengaruh terhadap masa depan anak, tegas Andriyanto.
Menurut Andriyanto, ketercukupan konsumsi makanan yang berkualitas pada anak sangat mempengaruhi tingkat kecerdasan anak. Anak-anak yang menderita gizi buruk otomatis kecerdasannya rendah dan sulit dipulihkan. Jika dibiarkan, 20 tahun ke depan akan muncul satu rantai generasi yang hilang, ujarnya.
Ibu dan anak
Dalam rangka mengurangi tingkat kekurangan gizi pada anak balita, Persatuan Bangsa-Ban gsa (PBB) melalui World Food Programme Surabaya memberikan bantuan makanan dan fasilitas kesehatan di beberapa daerah di Jawa Timur, yaitu Sampang, Probolinggo, Surabaya, dan Gresik. Pendampingan ini difokuskan pada kesehatan ibu dan anak.
"Kami memberikan bantuan makanan gizi tambahan berupa biskuit Rp 250.000 per tahun untuk ibu-ibu dan anak-anak. Pemberian makanan ini dipusatkan pada beberapa daerah tersebut yang memiliki tingkat gizi buruk tinggi," kata Direktur World Food Programme Indonesia Angela Van Rynbach.

Senin, 19 Desember 2011

Pendidikan Seks Baiknya Sejak Usia 2 Tahun?

Berbicara soal seks kepada anak-anak bukanlah perkara mudah. Banyak orangtua merasa risih, takut dan bingung untuk memulainya. Lantas, kapan sebenarnya waktu yang tepat bagi orangtua untuk mulai mengajarkan pendidikan tentang seksualitas kepada buah hatinya?
Penelitian terbaru terkait pendidikan seks telah merekomendasikan kepada para orangtua untuk memulai memberikan pemahanan tentang seksualitas kepada anak-anak mereka sejak usia 2 (dua) tahun.
Sebuah panduan dari Australian Research Centre in Sex, Health and Society (ARCSHS) mengatakan, berbicara tentang seksualitas kepada anak tidak akan membuat mereka berpikir untuk melakukannya. Justru beberapa penelitian telah menunjukkan, anak-anak yang tidak mendapat penjelasan seks dari orang tua cenderung untuk mencobanya lebih awal.
"Segera bicara dan berbicaralah sesering mungkin," ucap Jenny Walsh, dari La Trobe University, yang berpendapat bahwa berbicara tentang seks dengan anak sejak dini akan memberikan efek sebaliknya.
Dalam panduan tersebut dikatakan bahwa banyak orangtua yang masih gugup berbicara tentang seksualitas, termasuk topik-topik seperti anatomi, bayi, percintaan dan perasaan seksual.
Penulis mengatakan, dengan adanya panduan terbaru ini diharapkan para orang tua sudah mulai membahas masalah seks kepada anak-anak mereka sejak berusia 2 (dua) tahun dan berlanjut sampai mereka berusia 17 tahun.

Selasa, 13 Desember 2011

pengalaman pribadi

`     Pengalaman pribadi keagamaan yang pernah terjadi dari kecil bahkan dari saya d lahirkan sampai sekarang.saya sangat bersyukur  karena saya d lahirkan d keluarga dengan agama yang paling sempurna yaitu agama islam.dari kecil saya di didik oleh orang tua saya yang insyaallah mereka berdua mendidik saya sesuai dengan ketntuan-ketentuan yang ada d dalam agama islam yang kami anut.sejak dari dini saya sudah d ajarkan untuk solat dengan benar dan teratur walaupun kadang-kadang saya tidak melakukannya dengan benar dan orang tua saya tidak memaksakan mungkin di karenakan mereka menganggap saya masih kecil saat dulu begitu juga dengan puasa saat saya masih kecil saya tidak d wajibkan untuk puasa mereka hanya mengenalkan puasa kepada saya mengenelkan apa yang harus d lakukan saat puasa larangan apa saja yang tidak boleh d lakukan saat puasa.mereka berdua sangat sabar dalam mengajarkan kepada saya semua yang mereka ketahui tentang agama islam.tahun demi tahun mulai berganti saya mulai mengerti apa itu islam,mengapa saya menganut agama islam dan siapa yang pertama kali menyebarkan agama islam ,ayah saya dulu pernah berkata kepada saya bahwa pemimpin yang paling sempurna yang menjadi junjungan semua umat islam yang ada di dunia adalah nabi besar muhamad SAW.
    Beliau adalah seorang pemimpinyang sangat sempurna dalam segala bidangdan tidak akan ada pemimpinyang bisa menyamai beliau walaupun kita tidak dapat meniru secara sempurna tetapi kita harus tetap berusaha dan wajib untuk mncontoh tindakan-tindakan yang pernah beliau lakukan walaupun tidak akan sempurna.
    Tahun terus berjala saya sudah mulai tumbuh dewasa orang tua saya sudah mewajibkan saya untuk menjalankan ibadah solat lima waktu mereka sudah tidak membiarkan saya seperti dulu lagi saya sudah benar-benar d wajibkan untuk menjalankannya begitu juga dengan puasa,jika tiba waktunya bulan puasa saya juga d ajibkan untuk berpuasa dengan benar,puasa dengan segala pa yang d larang pada waktu itu dan semua yang wajib d kerjakan pada saat bulan puasa semua yang mereka lakukan karena menganggap saya sudah dewasa.
     Saya pernah mengalami kejadian yang mungkin bisa d senut kejadian agamis suatu ketika saya pernah sekali melakukan kesalahan yang berakibat sangat fatal,pada waktu itu ibu saya melarng saya untuk tidak keluar dari rumah tetapi tanpa pikir panjang saya memaksa ntuk pergi dari rumah sampai sampai saya tidak menghiraukan perkataan seorang ibu,pada waktu itu saya buru-buru pergi dari rumah dengan menggunakan sepeda motor saat di jalan tanpa adanya alasan yang jelas tiba-tiba motor saya terpelanting dan fatalnya saat motor akan  terpelanting saya sedang menaikinya untung saja Allah masih memberikan saya keselamatan setelah kejadian itu saya meutuskan untuk pulang ke rumah tapi dengan perasaan yang bercampur aduk,setibanya saya d rumah ibu saya kaget melihat saya pulang dengan badan luka-luka dan motor yang rusak lalu ibu saya bertanya kepada saya kenapa kamu nak,saya menjawab saa jatuh bu....saat itu ibu bilang makannya kalau di beritahu orang tua harus menurut....ibu juga bilang kenapa saya mengalami kejadian itu karena saya tidak menurut terhada orang tua dan sebelum saya pergi saya belum melaksanakan solat lima waktu ang seharusnya wajib di lakukan dari pada kepentingan dunia.dengan adanya kejadian itu saya alhamdulillah sampai sekarang harus mementingkan solat jika sudah tiba waktunya dari pada kepentingan yang lainnya.
Saya juga tidak akan pernah membantah perintah dari orang tua apalagi seorang ibu krena menurut sabda rosululloh bahwa surga berada di bawah telapak kaki serang ibu mengapa ada sabda seperti itu mungkin karena seorang ibu sudah sangat susah payah melaahirkan kita ke dunia ini dengan taruhan semua nyawanya,saya berusaha untukselalu mematuhi perintah orang tua,saya berusaha untuk tidak berbohong ke paa orang tua,saya juga berusaha untuk membahagiakan ke dua orang tua saya,saya juga berusaha supaya saya bisa membuat bangga ke dua orang tua saya walaupun saya tidak akan pernah melakukan semua itu dengan sempurna tetapi saya akan selalu berusaha melakukannya dengan semua yang saya miliki dengan semampu diri saya.
Satu pengalaman agamis yang pernah saya alami adalah kejadian itu terjadi ketika saya lulus SMA,ketika saya lulus SMA saya mendaftar universitas karena saya ingin melanjutkan study saya dan juga mendaftar d universitas yang saya inginkan,saya mengikuti ujian masuk yang pertama di universitas yang saya inginkan saat mengikuti ujian masuk tersebut saya merasa bisa mengerjakan hampir semua soal yang ada dan saya juga yakin saya bisa dengan mudah masuk di unifersitas tersebut akan tetapi tidak d sangka-sangka ternyata sya tidak lolos ujian masuk tersebut pada saa itu persaan saya kacau balau saya merasa sangat vrustasi dengan kejadian itu dan hampir-hampir keinginan saya untuk melanjutkan study tidak akan terlaksanakarena saya benar-benar mersa vrustasi.
Setelah kejadian itu ayah saya berkata kepada saya bahwa sebenarnya kamu bisa masuk ke universitas tersebut akan tetapi kamu hanya mementingkan faktor dunia yaitu kepintaran ataupun prestasi yang tidak di sertai dengan faktor lain yaitu doa,doa yang merupakan restu dari Allah SWT.

Setelah mendengarkan penjelasan dari ayah saya tersebut saya mulai menyadari kesalahan yang saya perbuat,saya mulai paham kembali dan saya juga mulai sadar dan seketika itu saya memohon dan berdoa kepada Allah SWT supaya saya mendapat keberuntungan supaya saya juga mendapat kemudahan bukaan hanya untuk menghadapi tes seleksi masuk universitas yang selanjutnya akan tetaoi saya juga berdoa supya saya bisa di beri kemudahan untuk menghadapi masalah duniawi.
Tibawaktunya pelaksanaan tes yang selanjutnya sebelum tes tersebut saya merasa yakin bisa atau akan dapat mengerjakan soal tersebut karena saya tidak ingin mengecewakan orang tua saya untuk ke dua kalinya tapi saya tidak menyangka ketika mengerjakan soal ujian masuk universitas tersebu soal tersebut sama sekali tidak bisa saya kerjakan tidak sperti saat mengerjakan ujian masuk universitas yang pertama,setelah ujian tersebut selesai dengan perasaan kacau saya pulang ke rumah ketika smpai di rumah saya di tanya oleh ayah saya,bagaimana tesnya saya hanya bisa menjawab saya tidak bisa mengerjakan soal-soal yang ada dan mungkin saya untuk ke dua kalinya mengecewakan ayaah akan tetapi ayah saya hanya tersenyum teruslah berdoa kepada Allah apapun yang terjadi dan yakinlah bahwa Allah akan mendengarkan doa kamu dan akan mengabulakan doa kamu.saya terus-menerus berdoa kepada Allah SWT agar saya di terima karena saya tidak mau mengecewakan kedua orang tua saya untuk ke dua kalinya,saya berdoa terus-menerus saat selesai menjalankan solat lima waktu.sampai tiba waktunya pengumuman sebelim saya melihat pengumuman ayah saya berkata kalau beliau sudah sangat yakin bahwa saya akan diterima tapi saya masih ragu karena saya tidak bisa mengrjakan soal-soal yang ada pada saat ujian,akan tetapi tak di sangka-sangka ternyata saya lolos atau di terima di universitas tersebut saya merasa heran kenapa saya bisa di terima padahal waktu mengerjakan soal tersbut saya benar-benar merasa tidak bisa mengerjakannya.ayah saya berkata ada factor lain yang mendukung kenapa kamu bs lulus ujian masuk universitas tersebut,beliau berkata karena doa atau restu dari Allah SWT yang menjadikan kamu bias masuk universitas tersebut.
Pengalaman keagamaan yang terakhir yang saya alami sampai sekarang yaitu ketika saya mengikuti kegiatan ESQ,saat kegitan tersebut saya merasa semua dosa saya teringat kembali saat teringat kejadian itu saya sampai-sampai meneteskan air mata karena takut akan semua dosa yang pernah saya alami.